Pohon Trinil: Bunga Kupu-kupu Terbesar di Indonesia ada di Lamongan

link-surya1
IMG_5416
SEBUAH pohon Bunga Kupu-kupu unik itu membuat saya penasaran. Di antara barisan Mahoni yang kurus tinggi, pohon tersebut tampak seperti akar yang menjalar ke atas, bergumul menjadi satu membentuk batang berdiameter sekitar 75 centimeter. Sementara batang-batang kecilnya menjalar belasan meter ke pohon-pohon lain mirip jaring. Tampak seperti akar yang tumbuh di atas batang.
Pohon itu berada di Dusun Wide, Desa Sendangharjo, Kecamatan Brondong, Lamongan. Ia berdiri di hutan berbukit seluas 6,2 hektare (ha) milik PT Perhutani. Warga dusun sekitar menyebutnya Trinil. Di hutan yang sama, ada puluhan Bunga Kupu-kupu tumbuh. Tapi hanya satu yang berbentuk unik. Perhutani menjadikan hutan tersebut sebagai titik area wisata swafoto tiga bulan terakhir.
Nama ilmiah pohon itu Bauhinia lingua. Famili Caesalpiniaceae. Usianya di bawah 30 tahun. Akhir tahun 80-an, Perhutani membabat habis pohon-pohon di sana. Rencananya lahan akan ditawarkan kepada warga untuk berkebun atau bercocok tanam. Namun saat itu tak ada warga yang berminat. Alhasil, badan usaha milik negara untuk urusan hutan itu menanam kembali pohon-pohon Mahoni pada 1987. Diprakirakan, Trinil tersebut tumbuh dari biji-biji yang terlepas dari pembabatan ketika itu.
20171126150630_IMG_5451
Ketika musim libur, ratusan orang datang ke sana untuk melihat uniknya Trinil. Pohon ini jadi menarik karena disebut mirip Whomping Willow — pohon yang berdiri di halaman sekolah film Harry Potter. Dilihat sekilas, Trinil memang mempunyai kemiripan dengan pohon di film itu, terutama pada sisi batang. Namun bagian atas pohon berbeda jauh.
“Kalau hari libur, sehari bisa sampai 1.400-an orang yang datang. Kalau hari biasa, paling 400 orang,” kata Ali Rohman (19). Ali adalah pemuda asli Dusun Wade yang banyak menghabiskan harinya di hutan itu. Ali bangga karena merasa viralnya Trinil unik itu tak lepas dari campur tangannya.
Ali menemani saya berkeliling hutan tersebut pada suatu hari Minggu bulan November lalu. Ia menunjukkan beberapa pohon Trinil normal yang tumbuh bersampingan dengan Mahoni-Mahoni lain. Kecuali bentuk batangnya yang mirip akar, tanaman-tamanan ini tampak biasa-biasa saja.
Warga ramai datang ke sana untuk memuaskan rasa penasaran. Bukan hanya mobil dan motor berplat S (karasidenan Bojonegoro) saja, tapi juga plat W (Gresik dan Sidoarjo) dan L (Surabaya). Warga luar kota umumnya mampir setelah berwisata ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) atau wisata religi Sunan Drajat. Kebetulan, lokasi pohon Trinil hanya berjarak sekitar 3 kilometer (km) dari akses Jalan Daendles atau Jalan Raya Pos. Tak jauh dari tempat wisata pantura lain.
Ali bercerita kepada saya, Trinil unik itu sudah lama diketahui keberadaannya oleh warga sekitar. Hutan menjadi tempat utama warga mencari pakan hewan. Selain Mahoni, ada banyak pohon lain yang tumbuh di sana. Termasuk juga tanaman belukar. Awalnya, Trinil unik ini berdiri di antara belukar padat. Dari jarak seratusan meter saja ketika itu, kata Ali, batangnya yang unik tak kelihatan mencolok. Pada 2015 lalu, ia iseng memotret pohon tersebut dengan telepon selular. Ia bagikan foto itu ke Facebook. Tak banyak yang respons, hanya pemuda karang taruna desa yang tertarik akan keunikan pohon itu.
Pemuda-pemuda sekitar kemudian memviralkan pohon tersebut lewat media sosial yang sama dua tahun kemudian atau Agustus 2017. Klaim sebagai pohon mirip Whomping Willow menarik banyak khalayak. Setelah itu, pihak Perhutani pun mencetuskan kawasan Wana Wisata Akar Langit di sana.
Lalu, apakah pohon itu sekadar unik dari penampakannya saja?
IMG_5374
Saya mencoba menemui perwakilan Perhutani yang bertugas di hutan tersebut. Kantornya berada tak jauh dari lokasi Trinil unik. Sebenarnya di lokasi yang sama ada puluhan Trinil yang tumbuh. Tapi pohon-pohon itu berdiri dengan satu batang kecil. Kelilingnya tak lebih dari dua genggaman tangan. Juga tak hanya di hutan tersebut, Trinil umum tumbuh di kawasan hutan kecamatan dan kabupaten lain.
Setelah pohon tersebut viral, Perhutani meminta Kebun Raya Purwodadi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk mengeceknya pada 20 Oktober 2017. Hasilnya, pohon tersebut memang unik dan jarang ditemui.
“Pohon induk Trinil….sering dijumpai di daerah lain. Akan tetapi yang bentuk dan ukurannya seperti di lokasi Wana Wisata Akar Langit merupakan yang terbesar, sangat unik, dan satu-satunya di Indonesia,” begitu yang terterang dalam Laporan Hasil Identifikasi Pohon di Wana Wisata Akar Langit yang dikeluarkan PT Perhutani. Tim Kebun Raya Purwodadi-LIPI juga mengidentifikasi 26 tumbuhan lain yang tumbuh di hutan yang sama.
Pohon Bunga Kupu-kupu bukan tanaman parasit atau benalu. Hanya saja puluhan rantingnya menjalar ke berbagai sisi membuat rimbun. Pohon-pohon di sekitarnya bisa mati karena tak mampu berfotosintesis. Maka tak heran, beberapa Mahoni di dekat Bunga Kupu-kupu itu mati.
IMG_5381
Secara administratif, Trinil unik itu berada di petak 35C KRPH Lembor. Lebih luas lagi, wilayah tersebut masuk KBH Tuban. Satu dari tiga rekomendasi hasil identifikasi adalah agar pohon tersebut disterilkan radius 10 meter (m). Namun kenyataannya, para pengunjung bisa mendekat kurang dari 2 m tumbuhnya batang. Pagar dipasang cukup dekat dengan batang pohon. Pengunjung bahkan bisa menyentuhnya.
“Kalau jaraknya segitu (10 m), kasihan penunjung yang jauh-jauh datang,” kata Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KPRH) Lembor, Andik Setijono. Untuk mengindari kerusakan atau matinya pohon unik itu, pihaknya menimbun akar yang menonjol ke atas tanah agar tak terinjak pengunjung. Ini sebenarnya masuk dalam rekomendasi kedua surat tersebut. Rekomendasi ketiga, yakni pemberian label pada pohon-pohon yang sudah di identifikasi. Pohon Trinil itu dan beberapa pohon lain sudah dipasangi tulisan identifikasi dari kertas kecil. Khusus Trinil, tulisan nama itu tercentel di salah batang pohon. Pengunjung yang tak jeli tak mungkin menemukannya.
KRPH Lembor berencana mengembangkan kawasan tersebut sebagai area wisata yang lebih luas. Total hutan di wilayah tersebut adalah 19,8 hektare. “Di sisi selatan, di Petak 35D, ada Trinil yang bentuknya unik-unik. Di Petak 35E ada Goa Genuk, Goa Gangsir, dan Goa Lowo,” Andik menjelaskan potensi-potensi yang akan dikembangkan. Goa yang disebut adalah cekungan dari dalam bebatuan yang tak terlalu dalam. Spot-spot buatan untuk berswafoto para pengunjung juga menjadi perhatian. Salah satunya, penataan bambu bentuk kapal di atas bukit. Para pengunjung bisa berfoto di sana dengan latar pemandangan area bawah hutan.
Nama Bunga Kupu-kupu kemungkinan diambil dari bentuk daunnya. Daun pohon tersebut berbentuk memiliki dua ujung lancip — mirip sayap kupu-kupu. Jika Anda memasukkan kata kunci “Bunga Kupu-kupu” di mesin pencari Google, hasilnya tak akan memuaskan. Hasil teratas yang muncul adalah Oxalis triangularis. Bentuk tanaman ini. sangat berbeda dengan pohon Trinil. Hasil yang akan lebih memuaskan jika Anda memasukkan kata kunci: Bauhinia glabra.
Ketertarikan saya pada Trinil unik ini membawa saya bertanya kepada Farid Kamal Muzaki, Dosen di Labolatorium Ekologi Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Saya mengirim beberapa foto pohon tersebut kepada Kamal. Awalnya, ia pun mengira bahwa pohon tersebut adalah Monkey Ladder — nama lain dari
Bauhinia glabra.
“Sepertinya itu kumpulan dari batang-batang tanaman menjalar (liana) yg saling tumbuh melilit sehingga tampak seperti ‘satu pohon’, padahal ada banyak individu tanaman disitu,” kata dia. “Saya juga baru lihat ada yang seperti itu tumbuhnya”.
20171126151929_IMG_5460
Bunga Kupu-kupu, menurut Kamal, memiliki banyak penampakan. Dalam ilmu biologi, kondisi ini disebut polimorfus. Secara ekologi dan habitat, Bauhinia lingua secara umum sama dengan Bauninia glabra.
Tanaman ini pun bisa ditanam, sebagaimana prinsip semua jenis tanaman. Namun jenis Bunga Kupu-kupu agak sukar untuk ditanam karena termasuk tumbuhan merambat. Tumbuhan ini juga mayoritas tumbuh sendiri-sendiri di daerah karst (pergunungan kapur).
Semua narasumber saya menyebutkan, batang tanaman ini umum dijadikan kerajinan. Salah satu yang ada meski tak populer di daerah Lamongan, yakni sebagai dekorasi pernikahan. Bentuk luar batangnya yang tak beraturan menarik untuk dipoles jadi hiasan.
Perkenalan saya dengan Trinil unik ini membuat saya berpikir, mungkinkah pohon ini dapat ditanam di pekarangan rumah?
Barangkali suatu saat akan ada ilmu pengetahuan yang mewujudkannya.
Iklan
Dipublikasi di Tempat Wisata | Meninggalkan komentar

Gunung Suru Lembor: Gunung Baru Jadi Wisata Baru

link-surya1

Penulis: Auliyau Rohman

Gambar 2(1)

Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan tak pernah kehabisan tempat wisata. Setelah sebelumnya Pantai Kutang di Desa Labuhan dan Pohon Trinil di Dusun Wide, Desa Sendangharjo, satu lagi wisata baru muncul, yakni Gunung Suru Lembor di Desa Lembor.

Sebelum menjadi tempat wisata, Gunung Suru Lembor merupakan pegunungan kapur biasa. Sebagaimana umumnya pegunungan kapur yang ada di bagian utara Lamongan. Namun masyarakat sekitar mempunyai ide untuk mengubah pegunungan kapur tersebut menjadi lebih bermanfaat.

Gambar 4(1)

Afiq (23) warga Desa Lembor sekaligus tim perintis desa wisata atau dalam umumnya sering disebut Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) ikut berperan dalam pembangunan Gunung Suru Lembor.

“Idenya muncul awal mulanya ketika pegunungan kapur ini tidak bisa digunakan untuk menanam padi karena tekstur tanahnya yang kurang mendukung. Kalau ditanami jagung ketika jagungnya sudah berbuah malah dimakan oleh monyet-monyet yang berada di pegunungan kapur ini,” kata Afiq.

Dari situlah, ia mengajak masyarakat desa bermusyawarah lalu membahas untuk dibentuknya pegunungan itu menjadi wisata kekinian. Apalagi kondisi alamnya sudah mendukung.

Gambar 1(1)

Diberi nama Suru Lembor sebab pegunungan kapur tersebut sering ditumbuhi tanaman suru (semacam kaktus yang berbentuk seperti centong nasi). Masyarakat sekitar menyebutnya tanaman entong-entongan. Sementara nama Lembor diambil dari nama desa tersebut.

“Gunung Suru Lembor sendiri jika dilihat dari maps, kurang lebih memiliki tinggi sekitar 200 mdpl (meter dari permukaan laut),” imbuhnya.

Pembiayaan untuk menjadikan Gunung Suru Lembor hampir seluruhnya dari desa. Rencananya, waduk Desa Lembor yang juga berada di tempat itu akan dijadikan tempat wisata. Luas waduknya sekitar 6 hektare. Rencananya, akan ada wahana sepeda air, bebek air, dan tempat pemancingan.

Gambar 3(1)

Pada Rabu (25/7/2018), Bupati Lamongan H. Fadeli, SH. MM resmi membuka wisata Gunung Suru Lembor di Desa Lembor, Kecamatan Brondong, Lamongan. Pembukaan tersebut dilakukan dengan pemotongan pita.

Gunung Suru Lembor memiliki spot-spot foto antara lain pintu langit, dream star, dan studio alam. Selain itu Gunung Suru Lembor bisa dijadikan  sebagai tempat perkemahan, out bound dan bahkan panjat tebing.

 

Bagi kalian yang ingin menggunakan mobil bersama keluarga menuju lokasi tak perlu khawatir. Akses jalan menuju Gunung Suru Lembor bisa ditempuh dengan mobil.

Untuk mengikuti kegiatan atau ingin tahu lebih tentang Gunung Suru Lembor bisa diakses melalui Instagram @lemborbeautiful atau jika ingin langsung berkunjung ke lokasi bisa mengetik di google maps Gunung Suru Lembor.

Dipublikasi di Tempat Wisata | Meninggalkan komentar

Rezeki Petani Buah di Bekas Rawa

link-surya1

Penulis: Auliyau Rohman

Gambar 1

Musim panas menjadi rezeki bagi petani buah. Mereka selalu menunggu musim tersebut, saat tepat ketika mereka menanam buah-buahan.

Salah satu tempat yang hampir setiap tahun dimanfaatkan untuk menanam buah-buahan adalah rawa di Desa Bulutengger, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, atau satu kilometer ke arah utara dari pertigaan pos polisi Kecamatan Pucuk.

Rawa ini pada saat musim hujan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mengairi sawah-sawah dan tempat pemancingan. Namun ketika musim panas, rawa ini disulap oleh petani-petani sekitar menjadi penuh tanaman buah-buahan seperti semangka, melon, dan belewah.

Gambar 4

Sunari, salah satu petani buah asal Desa Latek, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, ikut andil dalam menanam semangka di rawa Bulutengger tersebut. Jenis semangka yang ditanam adalah bibit Esteem.

Saat ditanya mengapa tidak menanam buah melon? Dia menjawab, ”buah melon terlalu mahal biayanya”.

Dia juga menjelaskan, tanah rawa itu cocok untuk semangka. Hasilnya tergantung juga bibit yang ditanam. “Penanaman dimulai ketika rawa kering lalu tanahnya dibersihkan dan dicangkul sebelum di tanami bibit semangka,” imbuh petani buah yang semangkanya baru berumur kurang lebih 30 hari tersebut.

“Untuk buah semangka sendiri agar bisa dipanen membutuhkan waktu sekitar 60-70 hari,” tandasnya.

Gambar 2
Lima ratus meter dari petak sawah Sunari terdapat petani buah lain, yaitu Keman dan Kasemi yang berasal dari Desa Waru Kulon, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan. Tak perlu heran jika di rawa tersebut juga ditanami buah-buahan oleh warga Pucuk sekitar sebab rawa tersebut berada di perbatasan Kecamatan Pucuk dan Kecamatan Sekaran.

Jika semangka Sunari baru berumur kurang lebih 30 hari, beda cerita dengan Keman dan Kasemi. Mereka sudah menanam semangka saat lima hari sebelum Bulan Puasa. Jadi hingga hari itu kurang lebih sudah 60 hari dan siap untuk di panen.

“Saya sudah belasan tahun menanam semangka di rawa ini,” imbuhnya. Salah satu penyebab gagalnya panen para petani adalah begitu banyak tikus di rawa tersebut. Tetapi Keman dan Kasemi bersyukur sebab hampir 95 persen semangka miliknya bisa dipanen.

Keman dan Kasemi juga menanam semangka bibit Esteem. Pada hari itu juga semangka miliknya dibeli oleh orang Jawa Tengah dengan borongan sekaligus. Sepetak sawah yang penuh dengan semangka tersebut dibeli dengan harga Rp 20 juta.

Gambar 3

Namun bagi Anda yang ingin membeli per bijinya atau per kilonya tak perlu khawatir sebab di sepanjang jalan rawa tersebut terdapat banyak penjaul buah, mulai dari buah semangka, melon, maupun belewah. Untuk buah semangka sendiri dijual perkilonya kisaran harga Rp 6000 sampai dengan Rp 8000.

Dipublikasi di Wisata Agro, Wisata Belanja, Wisata Minat Khusus | Meninggalkan komentar

Taman Multifungsi Kendalfornia

 

Penulis: Auliyau Rohman, mahasiswa UNISDA Lamongan

kendal 1

Taman tak hanya fungsi keindahan tapi bisa juga bisa berfungsi sebagai rambu lalu-lintas. Taman di Desa Kendal, Sekaran, adalah salah satu buktinya. Posisi taman ini persis di sebuah tikungan tajam. Sebelum menjadi taman, di tikungan itu sering terjadi kecelakaan, terutama di malam hari, karena jalannya yang menikung tajam dan menyebabkan pengendara sepeda motor sering kebablasan. Apalagi di tikungan itu terdapat semak-semak tinggi yang menutupi arah pandang.

kendal 2
Seringnya kecelakaan di tikungan ini mencetuskan ide pembuatan taman di tempat ini. Semak-semak yang tinggi itu dibabat lalu diubah menjadi taman yang indah. Selain mengurangi kecelakaan, taman ini juga menjadi tempat rekreasi warga sekitar. Biasanya taman ramai saat pagi setelah salat subuh dan sore hari pada pukul 16.00. Pagi hari pengunjung kebanyakan adalah keluarga sementara sore hari didominasi remaja dan anak muda yang bermain voli, sepak bola, hingga motor cross di lapangan di dekatnya.

kendal 3
Hingga saat ini, taman tersebut masih belum selesai sepenuhnya. Masih ada bagian yang belum rampung dibangun seperti taman baca dan air mancur. Pembangunan taman ini merupakan bagian dari upaya warga untuk memajukan desa. Kendal yang selama ini dikenal sebagai desa pelosok di bantaran sungai Bengawan Solo ini sekarang sedang berbenah. Tak hanya membuat taman, warga juga membangun beberapa lapangan olahraga, merintis usaha jamur tiram, juga membuat kebun belimbing yang direncanakan untuk wisata agro. Bahkan nama Kendal kini biasa disebut dengan nama pelesetan “Kendalfornia”, yang menurut warga setempat maksudnya adalah “Kendal for Nia” (Kendal untuk Indonesia).

kendal 4

Desa ini tidak begitu sulit dicari. Dari Jalan Raya Lamongan-Babat, jalan masuk menuju desa ini berada di Desa Gembong, Babat, tepatnya di sebelah SMPN 3 Babat. Kendal berada sekitar 5 km dari jalan raya.

Dipublikasi di Tempat Wisata | Meninggalkan komentar

Istana Asal-Asalan Gunung Mas Mantup

gunung mas 2

Penulis: Auliyau Rohman, mahasiswa UNISDA Lamongan

Sebagai daerah yang memiliki banyak bukit kapur, Lamongan punya banyak lokasi tambang, tak hanya di Lamongan pesisir tapi juga di Lamongan selatan. Beberapa bekas tambang itu berubah menjadi tempat wisata. Di Lamongan pesisir kita bisa menjumpai wisata jenis ini di Danau Hijau di Bluri, Solokuro. Di Lamongan selatan kita juga bisa menjumpai tempat serupa di Istana Gunung Mas Desa Tugu, Kecamatan Mantup, sekitar 20 km sebelah selatan Lamongan Kota. Dari arah alun-alun Lamongan kota, kita hanya perlu mengikuti Jalan Sunan Drajat ke arah selatan (arah Mantup/Mojokerto).

gunung mas 3

Tempat ini diberi nama “Gunung Mas” konon karena dulu pernah ditemukan bongkahan emas di bukit ini. Tapi cerita ini sepertinya asal-asalan dan sulit dipercaya mengingat bukit ini adalah bukit kapur. Cerita versi lain mengatakan, warga memberi nama Gunung Mas karena bebatuan bekas tambang di bukit ini berwarna kekuningan.

gunung mas 6

Berbeda dengan Danau Bluri yang masih asli bekas tambang yang tidak diapa-apakan, Gunung Mas ini adalah bekas tambang yang kemudian dibangun menjadi tempat wisata. Di dalamnya ada rumah-rumah hias, tempat santai, rumah panggung, kantin, kolam ikan, bahkan kandang hewan piaraan seperti ayam, kalkun, burung dara, dan kelinci. Sekilas rumah-rumah hias dini mirip dengan kampung pecinan sebab banyak dihiasi lampion dan unsur warna merah.

gunung mas 5

Untuk masuk ke tempat wisata ini, pengunjung dikenakan tiket Rp 5.000 per sepeda motor. Jangan bingung, di tempat ini sepeda motor disebut kuda, singkatan asal-asalan dari “kendaraan roda dua”. Tulisan asal-asalan yang kadang kocak memang bertaburan di berbagai sudut di tempat ini. Banyak sekali papan bertuliskan kata-kata yang sepertinya belum selesai dicat atau memang disengaja ngawur.

gunung mas 4

Dipublikasi di Tempat Wisata | Meninggalkan komentar

Wisata Luka Bumi di Bluri Lamongan

link surya

Penulis: Auliyau Rohman, mahasiswa Unisda Lamongan

bluri2

Satu lagi tempat wisata baru di Lamongan yang mulai terkenal di awal tahun 2017 ini. Lokasinya di Desa Bluri, Kecamatan Solokuro, tepatnya di bukit bekas galian tambang batu kapur. Warga sekitar menyebutnya Puri.

bluri4

Bekas lubang tambang yang luasnya kira-kira selapangan sepakbola ini sekarang menjelma menjadi sebuah danau dengan pemandangan yang menawan. Cocok buat latar belakang foto selfie untuk dipasang di Instagram atau Facebook. Air danau yang bening kehijauan dikelilingi oleh dinding-dinding bukit kapur yang menjulang tegak lurus dengan tinggi belasan meter. Menurut warga sekitar, air danau ini berasal dari mata air yang muncul dari dasar bekas galian tambang.

bluri5

Bukit kapur Bluri ini hanya salah satu dari sekian banyak lokasi tambang kapur di wilayah Lamongan bagian utara. Tapi dibanding bekas-bekas tambang lainnya, danau Bluri ini memang yang paling indah pemandangannya.

img_2106

Kalau ingin melihat bekas tambang lain, dari Bluri kita bisa mampir ke bekas tambang di Paciran. Lokasinya berada di belakang Kantor Pemadam Kebakaran, sebelah barat Wisata Bahari Lamongan. Kalau masih ada waktu, kita bisa mampir juga ke bekas tambang kapur di Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong.

IMG_2111.JPGSepanjang pesisir Lamongan wilayahnya banyak yang berupa bukit-bukit kapur. Bukit ini ditambang untuk diambil batuannya. Hasil utamanya adalah bata putih (yang oleh warga setempat disebut saren). Cara menambangnya cukup dengan digergaji mesin menjadi balok-balok batako. Sisa remah-remahnya menjadi batu makadam yang biasanya digunakan untuk mengurug jalanan tanah liat agar tidak becek. Bisa juga digunakan untuk kapur pertanian.

bluri1

Oh ya, buat kalian yang belum tahu Desa Bluri, desa ini bisa dijangkau dari Sukodadi maupun dari Jalan Deandels. Buat pengunjung yang berasal dari arah Babat dan Lamongan Kota, Desa Bluri bisa dijangkau dari Jalan Raya Sukodadi-Drajat, lewat Desa Banyubang, Kecamatan Solokuro. Adapun buat pengunjung yang melewati Jalan Deandels, desa ini bisa dijangkau lewat Desa Tlogosadang atau Banjarwati, Kecamatan Paciran.

Dipublikasi di Tempat Wisata, Wisata Minat Khusus | Tag | Meninggalkan komentar

Keripik Sunduk, Oleh-oleh Khas Lamongan Pantura

img_1650

Apa oleh-oleh khas Lamongan? Sebagian besar orang mungkin akan menyebut wingko Babat. Kalau Anda melewati Kota Babat atau Kota Lamongan, memang banyak toko penjual wingko di pinggir jalan. Tapi jika Anda pergi ke Lamongan pesisir (Jalan Raya Daendels) seperti wilayah Brondong dan Paciran, wingko Babat tak begitu populer di sini. Oleh-oleh yang lebih populer adalah air legen, jumbrek, dan gula merah. Sepajang kiri kanan jalan raya Paciran, ada banyak warung kecil penjual legen dan dawet siwalan yang juga menjual jumbrek dan gula merah dari nira siwalan.

Selain itu, sebetulnya ada satu lagi oleh-oleh khas Lamongan yang jarang diketahui karena tak banyak penjualnya, yaitu keripik ikan sunduk. Makanan khas ini mungkin tidak akan Anda jumpai di tempat lain karena ikan sunduk adalah hasil laut khas daerah nelayan. Ikan ini berukuran sebesar jari tangan dengan panjang sekitar belasan sentimeter. Sebagian besar badannya berisi tulang karena itu ikan jenis ini bukan termasuk ikan komersial yang penting seperti ikan tongkol, tenggiri, kakap, dan sejenisnya.

Oleh warga setempat, ikan ini biasa diolah menjadi keripik berbalut tepung yang biasa disebut dengan “kentaki” karena mirip dengan tepung ayam goreng cepat saji. Sebelum dikeripik, ikan dibelah, tulangnya dibuang, lalu dipotong kecil-kecil. Rasanya gurih kriuk-kriuk, bisa dimakan begitu saja, bisa juga dimakan sebagai lauk. Paling cocok dinikmati dengan nasi hangat dan sambal terasi. Rasanya bukan maknyus tapi mak kriuk.

Keripik ini biasa dijual dalam kemasan plastik dengan bobot sekitar 250 gram, seharga Rp 20.000. Jika Anda melwati daerah Blimbing, Kecamatan Paciran, Anda bisa mendapatkannya di toko buah di depan Apotek Kalipedot, seberang lembaga keuangan BMT Mandiri Sejahtera Cabang Blimbing. Atau, jika Anda ingin membelinya secara online, Anda bisa menghubungi nomor SMS atau WA di 089-617-73-13-63.

Dipublikasi di Oleh-oleh, Wisata Kuliner | Meninggalkan komentar