Meliburkan Diri Tanpa Rencana

Berwisata asyik biasanya justru tanpa perencanaan. Mendadak. Dirancang seketika, berangkat saat itu juga.

Sejak kecil, saya tak sering pergi berwisata saat hari libur raya, seperti hari Lebaran, Natal, atau tahun baru. Saya tak ingat pasti, tapi jika dihitung, jumlahnya mungkin tak lebih dari sepuluh kali.

Alasannya kuno, barangkali. Saya tak menyukai berlibur saat orang lain liburan di hari libur karena: saya malas untuk antre tiket, antre arena permainan, berdesak-desakan, blablabla, blablabla, ….. Intinya semua hal yang memaksa orang-orang harus berebut oksigen.

Tapi pada liburan tahun baru beberapa saat lalu, beberapa jam sebelum kembang api di Taman Bungkul Surabaya diletuskan, yang menandai tahun beralih dari 2014 ke 2015, saya memantapkan hati ikut tawaran teman yang mengajak berlibur ke Malang.

Kami berangkat ber-15 dengan seorang supir. Kecuali saya, semua berangkat dari Lamongan. Mobil minubus meluncur sekitar pukul setengah sembilan malam dari sana. Saya dijemput di Terminal Bungurasih sekitar pukul sebelas malam.

Baru duduk beberapa saat di dalam mobil, saya sudah berpikir masalah macet: masalah klasik musafir kota besar saat malam tahun baru. Malam itu, Tol Kejapanan Surabaya – Malang boleh dilewati. Semua mobil yang mengarah dari Surabaya ke Malang harus lewat sana. Tarif tol belum ada. juga pembatas jalan di beberapa tempat yang membuat perjalanan cukup membahayakan. (Untung saja supir kami saat itu cukup andal).

Tapi tetap saja, macet tetap tak dapat dihindari. Menuju Pantai Balekambang di Desa Sri Gonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, – lokasi tujuan yang baru saya tahu setelah masuk dalam mobil – beberapa kali mobil harus berhenti dan sesekali berjalan pelan. Sebuah hal yang kami, setidaknya saya, anggap wajar.

Kami melewati perjalanan dengan asyik mengobrol sampai pukul dua malam. Selepas itu semua tertidur, kecuali saya. Dan bapak supir, tentunya. Ini adalah pengalaman pertama saya tak tidur sehari-semalam.

Kami sampai lokasi sekitar pukul empat pagi. Banyak orang telah sampai jauh lebih cepat dari kami. Saat turun mobil, kami melihat orang-orang yang tidur dalam tenda dan orang yang istirahat di atas alas yang mereka bawa dari rumah. Kami sendiri harus meminjam alas salah satu pedangang kopi di sana.

Pelajaran penting 1: jangan pernah lupa membawa alas untuk tempat istirahat saat berwisata jarak jauh.

Ada juga wisatawan yang asyik begadang. Mungkin mereka juga seharian belum tidur, sama seperti saya. Juga waria yang mondar-mandir memamerkan tubuhnya yang, mungkin menurut mereka, molek betul. Agus, teman saya yang ikut berlibur, bahkan kaget bukan main saat tahu orang berpakaian seksi yang berjalan mendekatinya ternyata seorang waria.

“Masya Allah,” dia bilang, sambil berlari menjauh pontang-panting karena kantuk. Untung bencongnya enggak marah. Untung bencongnya ngejar dia, batin saya sambil cekikikan.

Usai ngopi sambil menunggu pagi di tempat peristirahatan, kami berjalan ke arah pantai. Sayang, pagi itu mendung. Tak ada matahari terbit yang bisa kami abadikan dengan kamera handphone. “Tiba-tiba langitnya terang tanpa ada matahari terbit,” kata Zakin, teman saya yang lain, menyamakannya dengan liburan tahun baru dua tahun lalu yang ia lewati di Gunung Bromo.

Tapi toh, liburan tetap berjalan asyik. Kami mengelilingi pantai dengan tak sengaja terpisah-pisah. Beberapa saling bertemu di area yang fotogenik. Saya sendiri akhirnya bersama dengan tim yang berisi delapan orang.

Jujugan pertama tim kami adalah pura di tengah Pulau Ismoyo, pulau kecil dekat pantai yang dihubungkan dengan jembatan dari daratan Pantai Balekambang. Pura bernama Luhur Amertha Jati ini, yang pintu masuknya ditutup untuk wisatawan, berdiri tak begitu megah. Areanya pun tak begitu luas. Tapi, relief bagunan dan atap yang condong tinggi ke atas cukup menunjukkan bahwa pura ini tempat sakral.

Puas mengelilingi pura, kami turun ke bawah menuju pantai. Laut biru jernih dan pasir putih bersih mengesankan bahwa pantai ini dijaga dengan baik. Balekambang memiliki garis pantai yang cukup panjang. Spot yang menurut saya paling menarik adalah bagian sekitar bawah jembatan. Karena ombaknya tak begitu tinggi, garis batas renang di Pantai Balekambang berada cukup jauh. Kami pun dapat bermain air laut lebih ke tengah.

Puas bermain air, kami beristirahat makan siang. Melihat seluruh menu (dan harga) yang terpampang besar di depan warung-warung, saya dan dua teman saya memilih singgah di warung nasi pecel (yang murah).

Harganya hanya Rp 5.000. Seporsinya berisi nasi yang cukup untuk menganjal perut, serta sedikit tauge dan daun kangkung yang disiram beberapa sendok bumbu pecel. Lauknya, dua potong tempe goreng ukuran dua jari telunjuk dan tengah orang dewasa. Benar-benar kecil.

Pelajaran Penting 2: Kalau ingin makan kenyang saat liburan, bawalah cukup bekal dari rumah.

Sekitar pukul sebelas siang, saat hujan mulai mengguyur, kami mulai bergeser dari Pantai Balekambang. Cuma, kami belum tahu jujugan selanjutnya. Gara-gara ini, saat mobil telah melaju, dan Bapak Supir menanyakan tempat yang selanjutnya akan dituju, kami belum bisa menjawab.

Beberapa teman merekomndasikan tempat rekreasi yang berbeda-beda. Sementara yang lain kompak mennjawab, “terserah!”. Mungkin karena saking kesalnya menunggu jawaban, Bapak Supir mengusulkan kami untuk langsung pulang.

Pelajaran Penting 3: Meski tanpa perencanaan, sepakati lokasi wisata sebelum berangkat.

Akhirnya, setelah saling lempar usul tempat tujuan, disepakati satu lokasi: Air Terjun Cobanrondo. Rute dari Desa Sri Gonco ke tempat wisata kedua ini melewati jalan di tepi tebing. Jika pengemudi mengantuk sebentar saja saat melalui jalan ini, celaka bisa jadi akibatnya.

Wisata Air Terjun Cobanrondo, bagi saya, tak lebih menarik dari tempat wisata sebelumnya. Turun dari mobil, kami hanya perlu berjalan beberapa meter untuk sampai di lokasi air terjun.

Di sana, perut saya langsung keroncongan. Mungkin karena seharian baru terisi seporsi nasi pecel. Atau mungkin juga karena lokasi dekat air terjun lumayan  dingin. Tapi, untung saja, salah seorang teman saya menawari kacang rebus yang ia beli sebelum memasuki area air terjun. Saya pun, tanpa basa-basi, menerima dengan senang hati (dan tanpa rasa malu).

Setelah satu-dua kali berfoto dengan latar air yang berderas jatuh dari atas bebatuan menuju ke bebetuan yang ada di bawah, kami langsung kembali ke mobil dan pulang. Tanpa sempat foto bersama seluruh tim yang ikut berekreasi!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s